Merdeka dan kebebasan dalam politik adalah bullshit, omong kosong dan sekedar iming-iming alias 11-12 dgn umpan lele. Apalagi demokrasi yang disebut-sebut selama ini sebagai alternatif politik yang menjanjikan bagi negara ini, kebebasan dan kemerdekaan sekedar utopia. Sejak lahir manusia telah diberi kemampuan berpikir dan bertindak, dikaruniai hati nurani untuk hidupnya. Itulah beda manusia-binatang. Hingga saat ini nyatanya manusia lebih banyak belajar dari alam, bukannya tetek bengek pemerintahan. Sejak jaman primitif manusia bertahan hidup dengan bersandar pada kemampuan diri dan alam. Setidaknya kemerdekaan mereka saat itu membawa kehidupan mereka ke tangan mereka sendiri bukan orang lain. Penghormatan dan rasa segan muncul bukan atas dasar pemerintahan, melainkan ilmu-ilmu yang diturunkan, suri tauladan yang diajarkan demi kelangsungan hidup anak cucu beserta alam yang melingkupinya kelak. Sedangkan demokrasi yang ada saat ini justru lebih primitif dari semua itu, pemerintah negeri ini lebih peduli pada kelangsungan hidup 'cucu sendiri'.
Demokrasi telah menempatkan masyarakat sebagai budak di negara sendiri. Kenyataan yang buruk ini bisa jadi lebih buruk lagi dengan adanya kekuasaan pemerintah yang miskin wibawa di mata orang-orang yang ia pimpin. Bisa dibilang keadaan yang seperti ini jauh lebih primitif dari keadaan manusia di jaman purba. Demokrasi sama sekali tidak memberi kebebasan untuk masyarakat! Pernyataan ini sangat rasional bagi masyarakat tertindas dan sayangnya sangat irasional bagi yang menindas. Keseluruhan hak masyarakat hanya dijadikan jamban bagi para penyelenggara negara ini, agar mereka bisa buang kotoran dan bernafas lega barang sejenak. Itupun jika jamban itu pecah, apa mereka mau repot2 membuang kotoran dgn cara lain yg 'bersih'? Jawabannya telak tidak akan! Mereka akan lebih memilih 'menahannya' hingga mendapat 'jamban' baru! Mereka lebih tertarik cara maen yg 'kotor'. Beraklah mereka di celananya sendiri.
Adalah perlawanan kita mencegah mereka mendapatkan ‘jamban’ baru, mari kita buat mereka mencret di celana. Meski memang kita tak tahu seperti apa situasi yang akan kita ciptakan setelah mereka semua berak di celana, tapi mari kita bangun kepercayaan. Bahwa kita, masyarakat, PERCAYA di tengah omong kosong demokrasi ini, kita harus segera MEMUTUSKAN NASIB KITA KE TANGAN KITA SENDIRI, secara individu maupun kolektif, entah melakukan sesuatu yang legal ataupun ilegal, entah dengan kekerasan atau tanpa kekerasan. Tetap waspada (waspadalah! waspadalah! Bang Napi red.), tentu saja karna kewaspadaan yang abadi adalah harga dari kemerdekaan, tak usah ragu, jadikan diri kita anarkis, merdekakan diri kita sekarang juga.







